NOVEL BASWEDAN : MELEMPAR HANDUK PUTIH ATAU MEMASANG BENDERA PUTIH?

Gresik Post - Akhirnya Novel mengeluarkan ancaman pamungkasnya untuk menekan Presiden Jokowi agar segera menerbitkan Perppu KPK, yang hari ini kita sudah tahu jawabannya, bahwa Presiden Jokowi sudah memutuskan untuk tidak menerbitkan Perppu KPK yang ditunggu-tunggu oleh seorang Novel Baswedan.

NOVEL BASWEDAN : MELEMPAR HANDUK PUTIH ATAU MEMASANG BENDERA PUTIH?

Sekali lagi, Negara menang atas tekanan seorang rakyat yang diberi kesempatan untuk membaktikan diri padanya dan berlagak seperti preman.

Waktu Anies Baswedan maju di ajang Pilkada Jakarta dan mulai memperlihatkan keahliannya memutar kata-kata yang menohok, mengejek, sarkastik, tapi kopong, saya sempat berguman, “Kok beda ya sama saudaranya, Novel Baswesan!”. Saat itu saya masih terkesima dengan sosok Novel Baswedan sebagai penyidik KPK yang jagoan.

Nama Novel Baswedan sebagai Penyidik KPK, seperti sebuah jaminan bahwa setiap kasus yang dia tangani, si tersangka pasti akan berujung di penjara. Bahkan saat Novel Baswedan “kena” musibah disirat air keras, saya sempat menyampaikan dukungan dan senang rasanya melihat Negara peduli pada dia dengan mengirimkannya berobat ke Singapura dan menanggung seluruh biaya pengobatannya.

Lalu acara Mata Najwa yang mewawancara Novel Baswedan langsung di Singapura mulai menggelitik nalar saya. Novel Baswedan mengeluhkan kasusnya yang tak kunjung terbongkar dan acara Mata Najwa dengan Novel Baswedan menjadi acara Najwa Shihab terakhir di Metro TV. Ada apa ini?

Pikiran naïve saya melihat seluruh cerita Novel Baswedan sejak dirinya disiram air keras, masih menyisakan tanda tanya, mengapa polisi tak mampu mengungkap si pelaku? Tak terserbit sedikitpun satu pertanyaan di kepala tentang kelopak mata kiri Novel Baswedan yang tak terluka, sementara mata kiri itu disiram.

‘Disiram’… kata itu yang dipakai sejak peristiwa itu terjadi hingga hari ini. Bagaimana mungkin seorang yang menyiram air keras ke WAJAH Novel Baswedan dari atas kendaraan bermotor yang bergerak bisa tepat sasaran yang mengenai bola matanya saja? Penggalan kronologi yang mengatakan bahwa pasca penyiraman Novel langsung membasuh wajahnya dengan air, dan itu yang menjadi pembelaan nalar saya atas tak terlukanya kulis wajah atau kulit kelopak mata kiri Novel. Tapi kemudian muncul pertanyaan baru, berapa detik air keras itu bisa menimbulkan efek atas kulit yang disiramnya hingga bisa menimbulkan bekas luka kabar atau tidak? Dan saya tidak melanjutkan searching saya untuk mencari jawaban atas pertanyaan kedua.

Sepertinya ‘cara’ si pelaku menyiram air keras ke wajah Novel Baswedan bisa dijadikan perlombaan baru di acara 17 Agustusan dimana pasangan yang berhasil ‘menyiramkan’ air ke wajah dan hanya mengenai bola mata, itulah yang menjadi pemenang.

Sekarang, hari ini, keping-keping puzzle Novel Baswedan mulai tersusun dan terlihat gambar apa yang sebenarnya sedang dimainkan oleh Novel Baswedan. Tak tersentuhkan laporan-laporan tentang dugaan korupsi yang dilakukan oleh Anies Baswedan, suara lantang para pemimpin KPK terhadap revisi UU KPK, suara Novel yang mulai menyerang pemerintah, hingga menggerakkan mahasiswa untuk melakukan unjuk rasa, dan usaha dia untuk mengganggu pelantikan presiden Indonesia, rupanya adalah bagian dari perjuangan Novel Baswedan untuk mempertahankan kerajaannya di dalam tubuh KPK.

Sosok Novel Baswedan sebagai penyidik senior nan professional yang dimiliki KPK dijadikan modal untuk memotovasi massa agar menentang keputusan pemerintah terhadap revisi UU KPK yang menyelipkan pasal baru tentang adanya Dewan Pengawas KPK.

Saya melihat, selama Novel Baswedan menyerang Pemerintah, dia lupa atau bahkan tidak tahu akan satu hal. Novel Baswedan tidak tahu bahwa sosok yang dia lawan adalah seorang Jokowi. Novel lupa bahwa KPK bagi Jokowi bukan hal yang besar. Jangankan cuma novel Baswedan, 7 juta massa di bawah bendera 212 saja ditekuk Jokowi dalam hitungan menit. Kekuatan Jokowi tak hanya mampu menekuk kelompok 212, Negara sebesar Cina saja, berani dia ajak perang. Apalagi satu manusia sekecil Novel Baswedan.

Jokowi bukan diam menghadapi kasus Novel Baswedan. Jokowi hanya sedang mengobservasi, sedang berusaha memahami kemana semua kejadian duo Baswedan ini akan bermuara. Jokowi memang seorang yang sangat hati-hati. Baginya kekondusifan Negara dan rakyat adalah yang utama. Dan hari ini kita bisa melihat hasil dari diamnya Jokowi atas semua tekanan-tekanan yang dilancarkan pihak penyerangnya.

Dua bulan ini akan menjadi bulan penuh siksa bagi duo Baswedan. Mereka akan berharap-harap cemas apa yang akan terjadi di tahun 2020 nanti, saat para pemimpin baru KPK dan Dewan Pengawas KPK dilantik oleh Jokowi.

Pernyataan atau mungkin lebih tepatnya disebut ancaman Novel Baswedan yang akan mengundurkan diri dari KPK dengan alasan kecewa, saya yakin akan dibeli oleh Jokowi tanpa ditawar-tawar lagi. Kita tinggal menunggu saja, kapan Novel Baswedan akan meleparkan handuk putihnya ke tengah arena. Dan itu lebih baik ketibang diberhentikan dengan tidak hormat karena kebusukan sudah tidak bisa disembunyikan. Kalau sudah begini, sama dengan memasang bendera putih karena karir Novel Baswedan di kepolisian akan benar-benar mati atau mati beneran.

Dan KPK, tolong yah… ga usah lebay membela Novel Baswedan mati-matian di media sosial. Ingat KPK bukan milik Novel, KPK adalah lembaga Negara milik rakyat Indonesia. Orang seperti Novel Baswedan banyak dan mereka akan selalu datang dan pergi setiap waktu.
.
.
.
Husni Mubarak

Belum ada Komentar untuk "NOVEL BASWEDAN : MELEMPAR HANDUK PUTIH ATAU MEMASANG BENDERA PUTIH?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel