Ganjar Pranowo

Gresik Post - Orang bilang bahwa banyak relokasi pabrik dari China, Korea, Taiwan ke Vietnam. Tapi kalau mau jujur jenis industri yang masuk ke Vietnam masih jauh lebih banyak ke Jawa Tengah. Mengapa? karena relokasi pabrik yang masuk ke Vietnam itu adalah industri yang mengandalkan upah murah. Dua mitra saya dari China sudah membangun Pabrik di Indonesia, dan itu lokasinya di Jawa tengah.

Ganjar Pranowo

Begitu juga teman saya dari Korea dan Taiwan sudah lebih dulu memindahkan pabriknya dari Tanggerang dan Bekasi ke Jawa Tengah. Tahun 2014, 90 pabrik tekstil dan garmen pindah ke Jawa Tengah. Baru baru ini 140 pabrik di Jawa Barat relokasi ke Jawa Tengah, seperti Tegal, Pekalongan, Semarang, Salatiga, Boyolali, Solo dan Sragen.

Tahun ini sampai tahun depan, Jawa Tengah akan dibanjiri oleh relokasi pabrik dari China. Karena upah di China sudah USD 2/jam. Sudah tidak kompetitif untuk produk yang membutuh tenaga kerja banyak. Mereka memilih Jawa tengah karena di samping upah murah, buruh di Jawa tengah engga rewel dan engga mudah demo.

Berita tentang kenyaman berinvestasi di jawa tengah itu sudah jadi buah bibir dikalangan pabrikan di China. Mengapa Jawa Tengah lebih menarik dari vietnam? Menurut mereka yang saya tanya. Bahwa masyarakat jawa tengah itu ramah, dan para buruh punya etos kerja yang baik dan cepat sekali belajar. Dan yang lebih penting perizinan sangat mudah dan cepat serta hampir tidak ada pungli. Pelabuhan laut yang efisien.

Lantas mengapa Jawa Tengah sektor manufaktur terus tumbuh sementara daerah lain turun. Mengapa pertumbuhan ekonomi di jawa tengah lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional? Di samping upah buruh yang murah, juga pemda berhasil mengendalikan inflasi.

Dampaknya imbal hasil pekerja tetap positip. Ini bisa terjadi karena, pertama, serapan APBD diatas 95% . Kedua, PAD selalu surplus dari target yang ditetapkan. Ketiga, ekspansi pemda lewat APBD sangat efektif dan efisien menjaga keseimbangan sektor manufaktur dengan pertanian. Jadi tidak ada yang dirugikan akibat adanya relokasi industri begitu besar ke jawa tengah.

Sangat berbeda dengan DKI, Batam , Banten, Jawa barat, Sulawesi yang justru tumbuhnya industri mengakibatkan ketimpangan ekonomi dan inflasi tidak bisa dihindari. Dalam jangka panjang justru terjadi deindustrialisasi? Karena pemda gagal mengelola APBD sebagai alat keadilan ekonomi dan sebagai alat distribusi pertumbuhan. Akibatnya upah buruh terpaksa terus dinaikan, yang otomotis secara berlahan tapi pasti pengusaha hengkang mencari daerah yang lebih efisien dan established ekonominya. Business as usual

Sekarang apa penyebab Jawa Tengah sejak era Ganjar begitu hebat pembangunannya? Sama dengan Jawa Timur ( nanti saya ulas) karena mereka sudah menerapkan pengelolaan APBD secara modern dengan sistem yang transparan dari sisi belanja maupun pendapatan.

Ganjar menerapakan Government Resource Management System (GRMS), yang merupakan sistem terpadu dari sistem perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Tidak lagi menerapkan per-item, dimana masing masing aplikasi tidak berada dalam satu platform.

Jadi setiap sen uang pemda keluar, jelas goal nya, jelas benefit social maupun economy nya. Terukur dengam tepat karena sistem evaluasi yang terintegrasi dengan perencanaan dan anggaran.

Dengan sistem itu Ganjar sebagai gubernur dapat dengan efektif mengelola daerahnya, dan melaksanakan fungsi pengawasan sebagai wakil Pusat kepada setiap kabupaten kota. Tahun 2017 lalu Ganjar penerima penghargaan dari Presiden RI sebagai Penggerak Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Teladan.

Kalau Jakarta memiliki Kartu Jakarta Sehat, Jawa Tengah telah mengeluarkan Kartu Tani. Ini sistem terbaik untuk distribusi dan kesejahteraan petani. Ia juga Gubernur terbaik dalam hal mengelola sektor perhubungan. Gubernur paling cepat memperbaiki jalan berlobang. Gubernur paling beprestasi melakukan pencegahan korupsi dan pungli.

Hebatnya APDB Provinsi Jawa tengah itu hanya 20% dari APBD DKI tapi kinerjanya luar biasa walau penduduk nya 4 kali penduduk DKI. Mengalahkan pertumbuhan ekonomi nasional dan nomor tiga tertinggi di ASEAN setelah Vietnam dan Philipina.

Beda dengan jakarta, APBD tertinggi tetapi rakyat masih ada yang engga punya jamban dan masih ada wilayah yang engga punya tempat penampung sampah sementara. Seharusnya Anies malu kepada Ganjar. Saya kehabisan kata kata tentang Anies kalau membandingkannya dengan Ganjar. Nyesek…
.
.
.
EJB

Belum ada Komentar untuk "Ganjar Pranowo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel