SOSOK HITAM DI BATU NISAN

Gresik Post - Suara adzan yang berkumandang terdengar dari langgar kecil di kaki Gunung Lawu. Aku terlonjak bangun lalu menghampiri simbok yang sedang memasak di dapur dan ikut duduk di sampingnya. Di depan tungku simbok sedang meniup  api menggunakan semprong dari bambu. 

SOSOK HITAM DI BATU NISAN

Wajahnya meringis karena asap yang mengepul dari kayu bakar, menyebabkan perih kedua netra beliau. Kasihan sekali simbok, gara-gara kemarin kayu-kayu itu telat kuangkat, jadinya basah lagi karena siraman air hujan. Alhasil, hari ini simbok terpaksa memasak menggunakan kayu  yang belum benar-benar kering.

Dengan mata masih setengah mengantuk, aku menghangatkan diri sambil menjulurkan kedua tangan di depan tungku. Sementara simbok duduk di atas lincak mulai memarut kelapa. 

Sepertinya hari ini simbok akan memasak jangan (sayur) oblok-oblok. Terlihat dari kacang panjang, daun melinjo, mlanding dan teri yang sudah teriris tipis tercampur di dalam sebuah baskom bermotif hijau lurik.

“Kok malah api-api (menghangatkan badan) ki piye to Nduk. Sana buruan sholat Subuh, keburu waktunya habis," Tegur simbok. 

Meskipun simbokku ini cuma wong ndeso, yang benar-benar minim ilmu agama, beliau tidak pernah bosan mengingatkanku untuk rajin beribadah. 

Katanya waktu itu, “Wes ben Simbok wae sing bodo, putuku kudu pinter, kudu sregep sholat lan ngajine (sudah biar Simbok saja yang bodoh, cucuku harus pintar, harus rajin sholat dan ngajinya).”

O iya, wanita yang kupanggil simbok ini sebenarnya adalah nenekku, tapi karena mendengar bulik-bulik memanggilnya simbok, makanya aku pun ikut-ikutan memanggil dengan sebutan itu.

“Ayu, di kon ndang sholat kok malah bengong itu gimana, to. Gek buruan, keburu mataharine njedul.” 

“Dingin, Mbok,” keluhku, semakin erat memeluk lutut.

“Nggak, buruan sana. Kamu belum gerak, makane masih ngrasain dingin. Nanti juga dinginnya hilang. Ayo cah pinter. Gek ndang sholat,” rayunya.

Setengah malas, aku beranjak menuju sumur yang terletak di belakang rumah untuk berwudhu. Apes, padasan yang biasa terisi penuh ternyata kosong. Mau tak mau aku terpaksa menimba. Kuturunkan tali ember. 

Sret … sret … blumm, akhirnya ember hitam itu sampai juga ke dasar sumur lalu perlahan aku mulai menarik talinya. Katrol yang mulai karatan, membuat tali menjadi agak sulit berputar dan menimbulkan bunyi yang khas.

Sedang asyik aku mengerek, tiba-tiba melintas seorang wanita seusia simbok dengan rambut yang sepertinya sengaja dibiarkan riap-riapan. Kebetulan di samping rumahku, ada jalan setapak yang biasa dilalui warga bila hendak pergi ke sungai. Masa itu belum semua warga memiliki kakus di rumahnya. Sehingga mau tidak mau mereka buang hajat di sungai. 

Bahkan bukan hal aneh lagi, bila melihat suasana di sungai. Di bawah orang-orang pada mandi dan mencuci, eeeh … di sungai atas ada orang Mekong (meme bokong) buang hajat sak enak e udelnya, tanpa pekewuh.

“Mau ke kali to, Mbah?” sapaku. Keadaan yang remang-remang membuatku tidak bisa melihat wajahnya secara jelas. Tapi dari perawakan, sepertinya dia Mbah Sainah, tetanggaku yang tinggal di sisi timur regol pos kamling.

Mbah Sainah tak menggubris teguranku. Dia terus melangkah, tanpa menoleh sedikitpun, lalu menghilang di jalan menurun di balik rimbun papringan (pohon bambu).

“Wong diluruhi kok ora gelem semaur (orang ditegur kok tidak mau menjawab),” gumamku bersungut-sungut.

“Ayuuuu!” 

“Dalem, Mbok.”

Simbok sudah mulai berteriak memanggil. Secepatnya aku kembali ke dapur. Apalagi angin yang bertiup terasa semribit membawa aroma kembang setaman, menyebabkan  bulu kudukku meremang. Posisi sumur yang gelap tanpa penerangan dan berada tidak jauh dari area pemakaman membuat suasana sermakin mencekam. Bayangan-bayangan akan makhluk kegelapan menari-nari dalam otakku. Hiiiiii. 

Lampu bohlam sumur mati, kakung belum sempat membelinya karena belum ada uang. Sudah berhari-hari rapak (atap dari anyaman daun tebu) yang dibuat kakung mangkrak karena belum juga diambil pemesannya. 

Selepas sholat, terdengar suara kentongan yang di tabuh warga. Dari ketukannya  menunjukkan jika ada raja pati yang terjadi di kampung ini. Kulipat asal mukenaku, menggulungnya di dalam sajadah dan berlari menyusul Simbok di dapur. Terdengar simbok sedang mengobrol dengan kakung yang baru pulang dari langgar.

“Sing meninggal sopo, Kung? Kok ono sing nabuh kentongan?” 

“Yu Sainah. Meninggal semalam sekitar jam dua belasan.” Jawab kakung, sambil menyulut rokok klobotnya dengan kayu yang diambilnya dari tungku. Menghisapnya dalam-dalam agar rokoknya menyala sehingga terlihat tulang pipinya yang kempot.

Mendengar perkataan kakung, aku segera menghambur, ndusel di ketiaknya, “Kung, jangan bohong, lha  tadi pas wudhu Ayu weruh  (melihat) Mbah Sainah mau pergi ke kali kok.”

Siapa yang percaya coba? Baru saja aku melihatnya, masak tiba-tiba katanya meninggal?

“Yu … Yu … mosok yo Kakung ngapusi (bohong). Lagian kan ya nggak boleh to kalau orang yang masih hidup dikabarke meninggal.”

Baru saja Kakung terdiam tiba-tiba …

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, Inna lillahi wa inna illaihi rojiun, Inna lillahi wa inna illaihi rojiun. Telah meninggal ke Rahmatullah, Ibu sainah …”

Aku melongo mendengar berita lelayu yang disampaikan Mas Agus, anaknya Mbah Parto pemilik langgar, lewat pengeras suara.

“Iyo ki Kung, jebul (ternyata) Mbah Sainah yang meninggal, Lha yang tadi Ayu lihat njur siapa yo, Mbok?”

“Wes gak usah dipikir, sana latare (halaman)  gek ndang (cepat) disapu.” Ucap Simbok, sepertinya beliau sengaja mengalihkan pembicaraan. 

Dari raut wajahnya sepertinya simbok dan kakung juga merasakan hal yang sama denganku. Nggumun (keheranan).

Langit mulai terang, matahari mulai menyembul di ufuk timur. Cahayanya begitu hangat menembus kulit. Kicauan burung prenjak terdengar dari pohon melinjo kulon rumah. 

Bila hari libur begini, biasanya simbok akan mengajakku dede (berjemur) sambil memilah batu kali yang sudah simbok bawa pulang. Batu yang besar dan kecil kupisahkan, agar memudahkan simbok saat nanti memecahnya. Kata simbok, sinar matahari pagi bikin tulang kuat dan badan sehat.

Begitulah kehidupan kami saat itu. Untuk bertahan hidup, kakung dan simbok melakukan segala bentuk pekerjaan. Bila ada warga yang memerlukan tenaganya untuk menggarap ladang, maka simbok dan kakung akan menjadi buruh tani, tapi bila sedang tidak ada, maka seperti inilah kegiatannya sehari-hari, menganyam rapak, atau menjadi pemecah batu kali. 

Sebagai putu (cucu) aku berusaha untuk tahu diri, tidak nakal dan tidak terus-terusan minta jajan. O iya, dulu bila ingin mengetahui simbok sedang punya uang atau tidak, aku akan meraba stagennya. 

Biasanya simbok menyimpan duit dengan mengikatnya di ujung stagen. Bila ada bundelan di situ, aku berani minta uang jajan, tapi bila tidak ya aku memilih untuk menahan keinginanku.

Berhubung saat ini ada warga yang sedang kesripahan, maka sejak pagi kakung dan simbok sudah berangkat melawat. Begitulah kebiasaan warga di kampungku, bila ada warga yang kesusahan, maka mereka akan berbondong-bondong untuk datang membantu. 

Usiaku saat itu masih sepuluh tahun dan duduk di kelas lima SD. Biarpun perempuan aku lebih suka bermain dengan anak-anak cowok. Di mataku mereka lebih tangguh dan tidak cengeng. 

Berbeda dengan anak perempuan yang sedikit-sedikit ngajak berantem, sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit menangis. Ah … menyebalkan. 

Jadi … bila ada orang meninggal, itu bukan hal yang harus kami takuti. Justru hal ini membawa kebahagiaan dan berkah tersendiri, karena kami jadi berkesempatan buat mencari uang jajan dengan memungut uang sawur yang disebar. 

Lumayanlah, kami bisa mengumpulkan uang pecahan lima puluhan, seratusan, atau bila beruntung kami akan menemukan uang koin lima ratusan. Menyenangkan, bukan? Belum lagi sensasi serunya ketika kami berebut uang sawur itu.

Sekitar jam sembilanan, teman-temanku sudah mulai berkumpul di pertigaan dekat rumahku. 

“Ayu, melu golek (ikut nyari) sawur, ora?” Si Riyanto yang gendut bertanya.

“Ikut, Ri.”

“Yo wes, Ayo buruan, keburu jisime (mayat) budhal nang sarean (berangkat ke kuburan).”

Akhirnya rombongan kami pun berjalan beriringan menuju rumah duka. Sesampainya di sana terlihat kesibukan warga yang tak biasa. Beberapa lelaki tampak berlari-lari membawa kapas dan lembaran kain kafan. Ada juga yang buru-buru pergi ke warung dan begitu balik membawa berbungkus-bungkus kopi bubuk.

Kami mengintip dari jendela yang terbuka, peti mati yang di taruh di atas meja yang dijejer tampak memerah di beberapa titik. Sepertinya darah merembes melalui sela-sela sambungan kayu peti. 

“Kok trobelone  (peti) warnane merah yo, kudune kan putih.” Bisik Giyanto.

“Kelihatannya mayat e luka-luka, makane darah e ngucur.” Sahut si Riyanto.

“Hu um. Tur ambune kok bacin (baunya kok busuk), Yo,” timpal Nano sambil membekap hidung dan mulutnya.

“Sssttt … jangan kencang-kencang ngomongnya, tadi aku dengar dari orang-orang, perut e mayit e mbledos (meledak).” Ratno yang baru bergabung tiba-tiba nyeletuk.

Kami serentak menutup mulut dengan mata melotot saking kagetnya. Masak iya perut bisa mbledhos.

Kami kembali mengintip kegiatan di dalam. Terlihat jenazah dikeluarkan lagi dari peti. Memang darah tampak terus mengucur dari tubuh bagian bawah mayat tersebut. Kain kafan yang berwarna putih sudah berubah menjadi merah. 

Beberapa lelaki dewasa menggelar plastik di dalam peti. Para ibu membantu membalut ulang jenazah dengan kain kafan yang baru. Raut ketakutan terpancar jelas di wajah mereka para pengurus jenazah itu. 

Setelah dianggap cukup rapi, jenazah itu kembali dimasukkan ke dalam peti, ditaburi kopi bubuk dan setelah dianggap cukup  peti langsung ditutup dan dipaku.

Setelah disholatkan, mayat segera digotong ke makam untuk di kebumikan. Inilah saat yang kami tunggu-tunggu, berebut duit sawur. Kami terus mengikuti para penggotong jenazah. Tak peduli walau sesekali keinjak kaki para pelayat dan kena omel. Wees … Ndableg pokok e.

Sesampainya di area pemakaman, peti siap untuk diturunkan. Dua buah papan ditaruh melintang diatas lobang makam. Ada tali yang menjulur di atas papan tersebut. Beberapa lelaki dewasa terlihat memegang tali pada empat sisi yang berbeda. Sementara dua lelaki dewasa yang lain bersiap menarik papan. 

Papan sudah tertarik, peti siap untuk diturunkan, tapi kemudian terjadi peristiwa aneh. Peti tersebut tidak bisa masuk. Nyangkut karena sempit. Lubang kubur itu kurang panjang. 

Terdengar seruan Mas Margono, anak Mbah Sainah yang mengomeli para penggali kubur, “Piye to kalian ini, Nggali wae kok bisa kurang!”

“Nyuwun sewu, Mas. Padahal tadi sudah saya ukur lho, kok bisa kurang yo.” Sanggah Lik Darso.

“Yo wes gali meneh, Lik!” perintahnya, kesal.

Bergegas Lik Darso dan timnya kembali turun ke liang lahat untuk menambah panjang lubang.

“Sampun, Mas. Monggo sekarang kita turunkan.”

Warga pun kembali berusaha menurunkan peti. Langit mulai gelap, sebentar lagi dipastikan hujan akan turun. Tapi lagi-lagi terjadi peristiwa ganjil. Peti itu tak juga bisa masuk. Lubang yang sudah di gali sepertinya selalu menciut. Begitu berulang-ulang. 

Para pekerja penggali makam mulai kelelahan. Melihat warganya yang mulai kehabisan tenaga, Mbah Joyo, ketua RT angkat bicara.

“Mas, ini hari sudah mulai gelap. Kasihan mereka.”

“Lha terus gimana nasib jenazah Ibu saya, Pak?” tanya si anak Mbah Sainah yang arogan tadi.

“Kita coba memakamkan jenazah tanpa peti yo, Mas.”

Akhirnya warga membongkar tutup peti untuk mengeluarkan jenazah. Semuanya terhenyak kaget. Kain kafan sudah basah lagi oleh darah. Setelah jenazah sudah terangkat. Anak dan beberapa saudara si Mayat turun, untuk menyambut mayat. Tapi lagi-lagi usaha itu gagal. Lubang kuburnya kembali menciut. 

Warga pun hilang akal. Mbah modin yang memimpin do’a juga sudah menyerah hingga akhirnya, salah satu warga berteriak, “Wes dimasukkan paksa saja, “

“Ora iso, sampeyan nek ngomong ojo sak geleme, Kang!” seru Mas Margono anak Mbah Sainah.

“Lha yo kowe weruh dewe to, Mas. dawane (panjangnya) kurang terus. Kowe nek maido terus, nyoh gali sendiri kuburan ibumu.” Dengan penuh emosi, Mas Kardi melemparkan cangkul ke arah Mas Margono. Untung saja tidak mengenai kakinya.

Suasana pemakaman benar-benar tak nyaman. Semuanya seperti diliputi amarah. Mas Margono langsung turun mulai menggali makam untuk ibunya. Sayang, walau sudah berulang kali dicoba, tetap saja makam itu kurang panjang.

Akhirnya Pak RT mengambil inisiatif, jenazah tetap dimakamkan, bagaimanapun caranya. Warga yang lainpun menyetujui usul tersebut. Akhirnya mayat  dipaksa masuk ke dalam liang lahat hingga Krek …. Terdengar suara tulang yang patah.

Warga segera menyelesaikan prosesi pemakaman, setelah ditimbun tanah dan di do’akan, warga pun pulang kerumah masing-masing dengan beragam tanya di benak.

Bersambung.

Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kisah saya selanjutnya. O iya ini juga kisah nyata lho.

Trims Bapak/Ibu Moderator KBM atas perkenannya menyetujui postingan saya ini.

Trims juga kepada Sahabat Nirmala yang selalu setia mengikuti setiap cerita saya. Salam sayang selalu.

Belum ada Komentar untuk "SOSOK HITAM DI BATU NISAN"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel