KKN di Desa Penari versi Bima

Gresik Post - Setelah beberapa hari lalu, aku tulis versi Ayu dan lumayan mendapat banyak respon yang miring ataupun lurus dan beberapa kritik dari yang pedas sampai pedas banget. 

KKN di Desa Penari versi Bima

Akhirnya kutulis juga Versi Bima. Semoga tak kalah menarik. Dengan bahasa yang sudah mulai kuperbaiki. 
KKN di Desa Penari  Versi Ayu
Perhatian! Postingan ini mengandung unsur kengawuran yang melampaui batas maksimal. Jadi tolong jangan diambil hati, jantung atau pun diambil alih aba-aba. 

Tak ada niat lain selain untuk belajar menulis dan menghibur para pembaca saja. Semoga tak ada lagi yang  meden-medenin (Nakut-nakutin)ngko ditekani arwaeh Ayu karo Bima. (entar didatengin arwahnya Bima sama Ayu). 

Karna jujur aku jadi takut, tiap malam nggak bisa tidur kalau lagi melek. 

Ok Happy Reading. 

 KKN di Desa Penari
Versi Bima

Biasa dipanggil Bima anaknya pak Dadang. Nama lengkapku Sitilit Bima Sakti. Aku adalah lelaki paling tampan kalau sedang sendirian. Selalu terlihat menarik, dari penampilan hingga cara berkakata-kata. 

Pesonanya meruntuhkan dunia, saat aku lewat semua mata wanita tertuju padaku tak terkecuali waria para penggemarku. 

Tapi tidak untuk Widya, seorang gadis jelita anak penjual gorengan langgananku. Berbagai usaha telah dilalui, hampir tiap hari aku sebagai lelaki yang penuh karismatik selalu kewarung gorengan milik Mbok Nem. Ibunya Widya. 

Memakan gorengan 3 tapi bilangnya 5. Entah demi apa, yang jelas itulah salah satu trik. Terakhir kali saat aku sedang menikmati gorengan, datanglah seorang bapak-bapak bersama anak balita. 

Tiba-tiba "Awww ... Panas .. Panas" teriak bocah yang telah duduk disebelahku. Tanpa pikir panjang, aku yang sedari tadi memikirkan cara untuk menarik perhatian Widya, langsung memberikan topiku yang bertuliskan 'Niku' dan memakaikan dikepala bocah itu. 

"Koe apa-apaan cah?" tanya lelaki berambut keriting itu, sembari sedikit melotot. (kamu apa-apaan Nak?)

"Kue anake panasen Pak" balaku tajam (itu anaknya kepanasan Pak) 

"Mripate ora weruh apa, anakku panas mangan gorengan sing nembe ngentas" balas Bapak-bapak berkulit sawo mateng itu sembari menunjukan gorengan yang baru saja dilepehkan oleh anaknya. (Matamu nggak lihat apa, anakku kepanasan karna makan gorengan yang baru saja matang) 

Dengan perasaan malu tapi tetap ganteng akhirnya aku pun pergi. Apalah daya, widya tetap saja tak bergeming padaku. Ingin sekali move on tapi selalu galau ditempat. 

Inikah cinta, deritanya tak ada habisnya. Syalalalalalaa

***
Drtttt drtttt

Suara getaran dari benda tipis, persegi panjang milikku. Tertulis dilayar monitor nama Nur memanggil via WA.
"Hallo Nur, ana apa?" (Hallo nur, ada apa?) 

"Bim, koe mbok rung due kelompok KKN. Ayuh melu bareng kelompokku?" (Bim, kamu kan belum punya kelompok KKN. Ayuk ikut bareng kelompokku?" 

 Aku hening sesaat tak merespon, Nur segera menyambung ucapannya. 

"Karo Widya be melu Bim" (Sama Widya juga ikut Bim) 

Aku langsung girang, mendengar nama Widya pujaan hatiku. "Wah serius apa Nur, Widya melu? Yawis nek koe maksa, aku melu, kapan, nang ndi?" (Wah, serius apa Nur, Widya ikut? Yasudah kalau kamu mksa, aku ikut. Kapan, dimana?) "

Setelah aku tau kapan dan dimana KKN akan dilaksanakan, percakapan pun berakhir. Aku makin kepayahan menahan senyum di bibir dan rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

Malam sebelum hari H, aku mengirim pesan singkat untuk Widya. Jujur inilah pesan pertama yang kukirim untuk Widya. Sebagai lelaki ganteng aku tak pernah mencoba mendekati wanita, karena wanita yang selalu mendekat. 

Akibat terlalu ngganteng. Hufttt

[Hai Wid, met malem. Nggak nyangka yah kita bisa KKN bareng besok] 

Pesan WA telah terkirim, bahkan sudah dilihat. Tapi tak ada balasan dari Widya, membuatku gusar. Menunggu terus melihat dan menanti. Tetap saja tak ada balasan dari Widya meskipun statusnya 'Online'. Jarum jam makin meninggi aku masih resah diatas kasur berbalut seprei gambar Porenjes. 

"Ah, sial. Kenapa aku jadi nggak bisa tidur, uhh ... Mampus kau Wid, salahmu  buat aku nggak bisa tidur, kamu sendiri kan yang rugi, nggak bisa datang dimimpiku, huftttt" ucapku menggerutu dalam hati. Sebagai wujur penghibur diri. 

Akhirnya handsomnia melanda. Sepanjang malam masih tak bisa memejamkan mata, padahal besok harus berangkat KKN. Berbagai usaha untuk mendatangkan rasa kantuk sudah dicoba, mulai dari duduk di sofa sambil menonton tv, sampai duduk di tv sambil menonton sofa. 

Tetap saja rasa kantuk tak kunjung tiba. Hingga akhirnya sebelum subuh mataku mulai lelah dan harus terbangun lagi saat adzan subuh berkumandang. Ya, itulah rekor tidur terpendek sepanjang hidupku. 

***
Untuk selanjutnya, aku dan kawan lainnya sudah berkumpul. Kecuali Ayu yang masih tak terlihat batang hidungnya. Tak peduli, Yang jelas aku sudah melihat wanita pujaan hati yang sedang duduk diatas bangku sambil makan cilok. Aku berjalan mendekat. 

"Wid, WAku ra dibaleskoh?" tanyaku sedikit berbisik. (Wid, WAku kok nggak dibales?)

"WA apasih, enyong nomere genti" balas Widya dengan wajah sedikit heran (WA apasih, aku nomornya ganti) 

"Ohh pantesan" ucapku merasa lega. Setidaknya aku bukan diabaikan semalam, hanya saja pesanku terkirim entah kemana. 

Tiba-tiba Ayu datang dan dengan keras mengaba-aba untuk kumpul dan masuk mobil. Widya pun segera beranjak dan mengabaikanku yang masih tertegun berdiri didepannya. 

"Asem Ayu lah, arep njaluk nomere disit malahen gawe geger bae" ucap Bima dihati ( Asem, Ayu ah, mau nanya nomor WA dulu malahan bikin kacau aja) 

Akhirnya dengan berat hati aku ikut melangkah dan berharap akan ada kesempatan lagi nanti. 

***
Perjalanan cukup melelahkan, setibanya di kota Bakwan. Aku bersama rekan-rekan lainnya bertemu pak Prabu. Kepala desa yang akan bertanggung jawab dengan semua kegiatan kami disana. 

Hari pertama lelaki berblangkon itu mengajak semua rombongan keliling desa. Keganjalan sudah mulai terlihat. Dari tempat satu ke tempat lain banyak sekali sesaji yang bertebaran. Tibalah disuatu tempat dimana keadaan itu mengundang banyak tanda tanya besar bagi kami.

Diajaknya kami masuk dan duduk bersama. 

"Pak kie sih apa, deng ditutupi gombal ireng? Tanyaku yang sudah tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya. (Pak ini apa, kok ditutupin dengan kain hitam) 

 Rasa ingin tahu tentang Bakwan yang ditutupin kain hitam itu tak hanya melekat padaku. Tapi semua yang ikut bersama pun demikian.

"Kie kur nggo tanda, men ngerti nek kie kue Bakwan." jawab Pak Prabu singkat. 

(Ini hanya sebagai tanda, agar pada tau kalau ini adalah bakwan) 

"Wong bodo bae ya mesti ngerti lah, endi bakwan endi mendoan" ucapku gurau sambil tertawa cekikikan. (Orang Bodoh saja pasti tau, mana bakwan mana mendoan) (mendoan itu tenpe di goreng pake terigu yah, sengaja aku tulis barangkali ada pembaca diluar angkasa yang tidak paham) 

Anggota lain hanya terdiam, mungkin tak menyangka aku sesembrono itu. Kini raut wajah pak Prabu berubah, entah reaksi kekesalan atau nahan pengin BAB. Yang jelas tak seperti semula.

Sempat hening sesaat hingga disusul dengan penuturan. 

"Semoga koe pada ngerti ya Le" (Semoga kalian pada paham ya Nak)

Entah apa maksud perkataan itu, semua anak bungkam. Anehnya secara singkat raut wajah pak Prabu sudah kembali seperti sedia kala. Sedikit membuat kami nyaman kembali. 

Usai mengistirahatkan diri di warung pojok itu. Pak Prabu kembali mengajak semuanya untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Nur yang sedari tadi sudah merasakan keganjalan tiba-tiba ingin pulang saja karena tidak enak badan. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya. Pak Prabu pun, menyetujui. 

Dalam perjalanan. 

"Nur, koe nangapa. Mriang apa?" (Nur kamu kenapa. Sakit apa?)

"Perasaanku ana sing janggal Bim, apa koe ra ngrasakna?" jawab Nur, jujur. (Perasaaku ada yang janggal Bim, apa kamu tidak merasakan?")

"Ora luh, kenapa sih? Apa koe asih bisa weruh mahluk-mahluk lembut Nur?" ucapku antusias ( Tidak tuh, kenapa sih? Apa kamu masih bisa melihat mahluk-mahluk gaib Nur? ) Aku sudah berteman lama dengan Nur, jadi sedikit banyak tahu tentang kekurangan dan kelebihan Nur. 

"Udu kaya kue Bim. Wetengku rasane ana sing Ngganjel. Akeh" (Bukan begitu Bim. Perutku terasa ada yang ngganjal. Banyak")

"Sing bener Nur, aja get-geti" Aku makin penasaran dan sesikit bergidik. Merinding. (Yang benar Nur, jangan ngaget-ngagetin.)

"Iya miki enyong mangan gorengan kakeen, siki kewaregen kepengin meng WC" balas Nur tanpa rasa bersalah (Iya tadi aku makan gorengan kebanyakan, sekarang kekenyangan kepengin ke WC) 

"Ahh bajigurr koe lah" Rutuku sedikit kesal. 

Nur hanya tertawa ringan, sembari mempercepat langkah kakinya. 

"Nur, Widya kue asline due pacar purung sih?"  (Nur, sebenarnya Widya itu sudah punya pacar belum sih?) 

"Ya takon deweklah, wonge be neng kene kenapa ora takon?" balas Nur singkat. 

(Ya nanya sendiri lah, orangnya disini kenapa nggak nanya?)

"Hmmm, iya sih. Kenapa aku nggak nanya sendiri, biar lebih jelas. Toh aku kan Ganteng" batinku.

"Nur, enyong ngganteng mbok?" tanyaku menyambung percakapan. (nur, aku ganteng kan?)

"Sedengan"(Sedang-sedang) 

Jawab Nur singkat, padat dan jelas banget. 

***
Suatu malam aku kembali menemui Widya. perasaan cemas dan gerogi menjalar ditubuh zeropack milikku. Tapi aku harus melakukannya. Bagaimana bisa mendapatkan cinta Widya, kalau ngomong dengannya saja masih gelagapan. Uhh. 

"Emmm, Wid enyong arep takon ulih pora? (Wid aku mau nanya, boleh nggak) 

"Takon apa sih?" Balas widya tanpa menoleh, karna sedang sibuk menulis laporan hasil kegiatan. 

"Koe wis due pacar purung Wid?" tanyaku tanpa basa-basi dan jantung yang masih jedag jedug. (Kamu sudah punya pacar belum Wid?) Widya masih diam, sepertinya mata dan fikirannya masih tertuju pada kertas yang ada didepannya. 

"Wid!" ucapku sedikit keras, setelah beberapa detik tidak jua mendapatkan jawaban. 

"Ehh iya Bim. Kepriweh miki?" balas Widya sedikit terperanjak terbangun dari konsentrasinya.

(Ehh, iya Bim. Gimana tadi?)

"Pertanyaanku miki urung dijawab?" (Pertanyaanku tadi belum dijawab) 

"Takon apa sih, Berhadiah pora nek jawabane bener?" Balas Widya dengan sedikit tawa bergurau (Pertanyaan apa sih, Berhadiah nggak kalau jawabannya benar?)

Mereka pun tertawa bersama, Bima tak menyangka selain cantik alami tanpa bahan kimia, ternyata dia juga suka bercanda. Selang. beberapa menit Widya menyambung ucapannya. 

"Maaf Bim, sebenere aku wis tunangan" balas Widya tanpa ragu. (Maaf Bim, sebenarnya aku itu sudah punya tunangan) 

Bagai disambar petir hatiku hancur berbutir-butir. Terasa ada pedang-pedang gaib yang menusuk ulu hati ini bertubi-tubi. Sakit tapi tak berdarah. Perasaanku selama ini ternyata percuma, wanita impiannya telah dimiliki lain pria. 

***
Kegalauan semakin menghantui, resah dan getir didada tak bisa ku pungkiri.Tapi tetap ganteng.

Hingga suatu malam yang sepi nan sunyi. Aku menyendiri dalam keterpurukan tiba-tiba datanglah sosok wanita yang cantik jelita. Kupikir, dia adalah salah satu perempuan yang tinggal di desa ini. Entah bagaimana ceritanya kenapa bisa wanita itu tau semua beban pikiranku. Keren, mungkinkah dia dukun. Hati terus bergelut menerka-nerka. 

"Cah ngganteng, misal koe tek wei telu permintaan sing bisa tek kabulna, terus sisa gari siji. Koe arep njaluk apa cah ngganteng?" 

(Anak tampan, misal kamu kuberi tiga permintaan yang akan kukabulkan, lalu sisa tinggal satu. Apa yang akan kamu minta Nak?) ucap wanita itu memulai dialognya.

"Aku pengin permintaanku sing dikabulna mbalik maning dadi telu" [Aku pengin permintaanku yang dikabulkan kembali jadi tiga lagi] balasku tanpa pikir panjang. 

"Jebule koe pinter yo Le" [Ternyata kamu pinter yah Nak] sembari wanita itu tersenyum menatap tajam kearahku yang sudah mulai berpandangan kosong. 

"Kawit lair, wis pinter wis ngganteng" jawabku tanpa ekspresi. [Dari lahir, sudah pinter sudah tampan]

"Yawis nek ngganteng, tapi deng ditolak cintamu?" [Yasudah kalau ganteng, kenapa cintamu ditolak]
Aku hanya diam. Kecewa, tapi tetap ganteng. 

"Yawis toh Cah, ora usah lara ati. Kie tek wei nggon nggon men koe bisa ndueni wong wadon sing mbok karepi" [Yasudah toh Nak, nggak usah sedih. Ini kukasih kamu sesuatu yang bisa membuatmu bisa memiliki wanita yang kamu idamkan) 

Aku langsung tergugah. Girang, serasa ketiban durian runtuh. Nasib baik akan berpihak padaku. Hahaha aku tertawa puas. Dengan semangat dia menerima benda itu. Mahkota putih kecil. 

"Ojo grusak-grusuk. Koe ndue kie bakal ana syarate" (Jangan buru-buru. Kamu memiliki ini akan ada syaratnya) 
"Demi Widya apapun kue bakal tek lakoni"(Demi widya apapun itu bakal kulakukan) 

Usai perbincangan dan kesepakatan itu, akhirnya aku mendapatkan kembali gairah hidup. Ayulah satu-satunya teman yang mau mengerti dan membantuku. Alangkah bahagianya memiliki Ayu yang bisa membantuku agar bisa memiliki Widya. 

***
Suatu sore, sesuai janjiku pada lelembut itu, aku harus datang ke Tapak tilas. Dimana tempat itu sangat terlarang untuk dilaluinya, tapi aku tak peduli kekuatan cinta ini membuatku jadi pemberani. Egoku makin membuncah meski dengan cara apapun akan tetap kulalui. 

"Bim, koe arep ngendi?" (Bim, kamu mau kemana?) Tanya ayu padaku yang sudah mulai melewati garis terlarang untuk dijamah. 
Meski awalnya ragu, tapi kemudian ayu mengekor dibelakangku mengikuti langkah kaki ini. 

Suasana makin mencekam, mentari sudah kembali ketempat peraduannya. Angin semakin kuat saling berhantaman, pepohonan yang tinggi menjulang kini semakin lihai bergoyang sesuai irama yang berdenting dari ranting-ranting. 

Aku mulai meraba celana jins yang telah kukenakan, diambilnya benda yang selalu  kubawa. Korek api mulai menyala, daun-daun kering memudahkan api menjalar membakar kayu-kayu kering ditumpukan. Jadilah semacam api unggun kecil didepanku. Aku memulai kegiatanku versama Ayu. 

Disisi lain, Nur yang seolah mendapatkan bisikan gaib terus saja mengikuti langkah kakinya. Hingga ia tiba di tempat terlarang yang pernah sahabatnya ceritakan. 

Rasa cemas dan gelisah makin jelas, suara gending gamelan kuno mengiang ditelinganya. Dia masih melangkah, semak belukar disekitarnya tak jadi penghalang untuk tekatnya yang sudah bulat. Apa yang sedang terjadi. Makin dekat suara makin jelas, ya ... Suara yang tak asing lagi baginya. 

"Uhhhh ahhhh uhhh ahhh panas" ucap Ayu setengah mendesah dengan wajah yang mulai berkeringat. 

"Enak pora Yu?" (Enak nggak yu) tanyaku memastikan. 

"Enak Bim, Buket" 

 suara Ayu makin jelas terdengar ditelinga Nur. 

Nur semakin yakin, kalau itu adalah suara dua temannya. Langkah kakinya dipercepat menuju pusat suara, di balik gubug. 

"Astaghfirulloh.... Bim, koe apa-apaan. Kepriwe perasaane mboke karo ramamu. Nek weruh kelakuanmu kaya kie"

(Astaghfirulloh.... Bim, kamu apa-apaan. Bagaimana perasaan ibu dan ayahmu. Jika lihat kelakuanmu seperti ini)
"Nur, enyong hilap. Sumpah" Aku terkejut. Bola mataku membulat dengan pupil yang membesar. Menatap tajam Nur yang kini mengetahui perbuatanku dengan Ayu. 

Nur mendekat dan. Plakkk!

Dia menamparku, tapi tetep ganteng. "Nur kie ora kaya sing nang koe pikirna" (Nur ini tidak seperti yang kamu pikirkan) bantah Ayu mencoba menjelaskan. 

"Aku ora ngomong karo koe Yu, aku ngomong karo Bima. Wis ping pira koe nglakoni perbuatan kaya kie?"
(Aku tidak ngomong sama kamu Yu, aku ngomong sama Bima. Sudah berapa kali kalian melakukan perbuatan seperti ini?)

"Ping loro Nur, nyong bakal tanggung jawab Nur"(dua kali Nur, aku akan tanggung jawab Nur) balasku penuh rasa bersalah. 

"Apa ya koe pada ora mikir akibate, dewek nang kene kur numpang. Kok bisa koe neng kene nyolong budine wong di bakar nang hutan kekie. Apa ya ora isin, dewek nggawa jeneng kan kampus. 

Nek ngerti koe gelem nyolong budin nang kene apa ya ora mencoreng nama baik kampuse dewek" (apa kalian nggak memikirkan akibatnya, kita disini cuma numpang. Kok bisa kalian sampai nyuri singkong dan di bakar disini. 

Apa kalian nggak malu, kita membawa nama baik kampus. Jika mereka tau perbuatan kalian seperti ini, sama saja mencoreng nama baik kampus kita sendiri)

Gertak Nur penuh perasaan kecewa. 

Keesokan harinya mereka dibawa ke rumah Pak Prabu untuk dimintai keterangan dan ditindak lanjuti. 

Sekian kisah Bima penjual tahu bulat, itu kisah lama sekitar tahun 1157 SM. Sebenarnya beliau tidak ingin kisahnya di post, tapi setelah saya bujuk. 

Dengan berbagai jurus. Akhirnya beliau luluh dan berkenan menceritakan kembali kisah lamanya itu. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil. Kalau tidak ada pelajaran bararti pulang gasik. 

Sekian dan terimagajih. "Salam ngapakz"

Belum ada Komentar untuk "KKN di Desa Penari versi Bima"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel