VIRAL, MENCARI KEBERADAAN DESA PENARI

Gresik Post - Mumpung malam mulai larut, sebaiknya kutulis sekarang aja hasil penilaianku terhadap kisah yang beberapa hari terakhir ini banyak dibicarakan, judulnya "KKN DI DESA PENARI"

Viral, MENCARI KEBERADAAN DESA PENARI

Salah satu hal yang banyak dibahas adalah tentang otentisitas kisah yang dikesankan oleh penulisnya sebagai KISAH NYATA. Untuk itu, demi obyektifitas dan adil dalam menilai, kusertakan juga link kisah yang terbagi menjadi 3 bagian itu (bagian ke-3 aku tak memiliki link-nya, mohon maaf), sebagai berikut:
https://www.gresikpost.id/2019/08/viral-spoiler-thread-kkn-di-desa-penari.html
https://www.gresikpost.id/2019/08/viral-mencari-keberadaan-desa-penari.html
https://www.gresikpost.id/2019/08/langit-sudah-mulai-petang.html 
https://www.gresikpost.id/2019/08/viral-versi-tambahan-pov-mas-ilham.html
https://www.gresikpost.id/2019/08/viral-cerita-horor-kkn-di-desa-penari.html 
Ok, straight to the point
Sebelum menulis ini, aku menyempatkan diri untuk googling dengan kata kunci DESA PENARI dan hasilnya ada beberapa entry yang berisi rasa penasaran netizen tentang nama asli desa dan lokasinya. Nggak main-main, lumayan seru pendapat-pendapat mereka yang tergelitik oleh penasaran itu. Sebagian ngawur tapi nggak sedikit yang bisa diterima.

Karena aku nggak mau hal yang sama terjadi juga di statusku ini, ada baiknya aku akan melakukan "penguncian" agar tak terjadi hal tersebut.

Oh iya, semua petunjuk yang akan aku sampaikan di status ini adalah untuk mencari jawaban atas "kejanggalan-kejanggalan kisah KKN di Desa Penari itu yang doesn't makes sense untuk disebut KISAH NYATA alias based on true events. Aku nggak akan memulai dari kejanggalan yang paling vulgar yaitu bagaimana ceritanya ada program KKN dari sebuah kampus tanpa melalui Standar Operasional Prosedur sebagaimana lazimnya.

Aku hanya akan mencoba mengungkap kejanggalan-kejanggalan itu dari sudut pandang yang lain.
Here they are...

Kunci pertama adalah, harus disepakati bahwa "kisah nyata" tersebut terjadi di Jawa Timur yang dikuatkan dengan penggunaan kata "REK' atau "AREK" sejak cerita dimulai. No debate for this.
Kunci kedua adalah, para mahasiswa KKN itu adalah dari kampus di kota S yang sudah bisa dipastikan adalah Kota Surabaya. Salah satu petunjuk adalah cuplikan kisah versi Widya (bagian 1) sebagai berikut:

"cuk. sepedaan tah" kata Wahyu, spontan. Saat itu ada yang aneh entah disengaja atau tidak, ucapan yang di anggap biasa di kota S, di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu, wajahnya tampak tidak suka, dan sinis tajam melihat wahyu.

Sudah pada tau kan kalo yang biasa bilang "cak-cuk-cak-cuk" semacam itu adalah para Bonek. Ya memang sih, Arema juga suka gitu. Tapi kan kota mereka berawalan huruf M, bukan S.

Kunci ketiga adalah KKN tersebut di daerah 'ETAN" atau "WETAN" yang artinya berada di wilayah Jawa Timur bagian timur yang bisa ditegaskan bahwa itu berada di wilayah TAPAL KUDA (meliputi Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi).
Kunci keempat adalah KKN dilaksanakan di kota B dan ada 2 kota yang namanya berawalan huruf B di atas yaitu Bondowoso dan Banyuwangi. Dari sini nama Bondowoso harus dicoret karena nggak cocok dari keseluruhan cerita di bagian 1 maupun bagian 2.

Alasannya?

Ada dijelaskan dalam cerita tersebut bahwa untuk menuju kota B harus melalui kota J yang sudah dipastikan itu adalah Kota Jember dan itu nggak wajar. Karena ngapain jauh-jauh muter ke selatan untuk menuju Bondowoso dari Surabaya.

Lagipula, Bondowoso sebagaimana kabupaten Tapal Kuda lain di wilayah pesisir utara, tidak akrab dengan tradisi "penari" atau tari-tarian seperti yang digambarkan dalam keseluruhan cerita. Itu ada kaitannya dengan kultur etnisitas wilayah-wilayah tersebut yang cenderung Madura sentris.

Berbeda dengan wilayah selatan yang konon berasal dari keturunan Majapahit yang lari menuju Bali setelah kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa itu runtuh. Sejak dari Tengger, Lumajang, Puger sampai Banyuwangi selatan, masih banyak tradisi dan pemeluk agama Hindu (pura tertua di Indonesia berada di kecamatan Senduro Lumajang). Apa boleh buat, sejak awal Madura memang "sudah Islam" sehingga tidak akrab dengan ritual-ritual semacam sesajen atau menutupi obyek-obyek yang dianggap magis dengan kain berwarna-warni tertentu sebagaimana banyak bertebaran dalam cerita KKN di Desa Penari tersebut.

Kota B adalah Banyuwangi semakin diperkuat oleh kekhawatiran ibu Widya setelah mengetahui bahwa putrinya itu akan melangsungkan KKN di sana. Well... meskipun Banyuwangi sekarang adalah kota yang luar biasa pesat kemajuannya dan terkenal oleh pariwisatanya yang mulai mendunia, tapi dulu siapa yang tak kenal dengan kota paling ujung timur pulau Jawa itu dalam hal reputasi dunia magisnya. Kata SANTET akan selalu dikaitkan dengan Banyuwangi, belum termasuk segala macam ajian pengasihan dan lain-lain, hingga dulu ada pameo, "hati-hati sama orang Banyuwangi"

Jadi, Banyuwangi sudah dipastikan untuk dikunci petunjuk yang keempat.

Jika tak percaya, coba ketik keyword "DESA PENARI" di Google dan dari 152.000 entry akan langsung mengarahkan pada Kabupaten Banyuwangi dan ajaibnya, di daftar 20 pertama akan mengarahkan pencari pada TARI SEBLANG... salah satu tarian paling kuno dan mistis di kabupaten itu dimana para penarinya dalam keadaan trance alias tidak sadar dan bisa menari selama berjam-jam hingga berhari-hari nonstop.

Untuk sementara aku anggap cukup petunjuk dan kuncinya.

Berikutnya soal kejanggalan-kejanggalan.
Bagian ini akan aku kunci lagi hanya khusus pada HUTAN yang menuju lokasi kejadian. Aku langsung putuskan secara sepihak bahwa hutan yang dimaksud adalah Hutan Gumitir. Meskipun ada banyak hutan besar dan "wingit" di Banyuwangi, diantaranya adalah hutan lereng Gunung Raung di sebelah utara dan the legendary Alas Purwo. tapi keduanya aku coret karena jika kupaksakan untuk sesuai dengan kisah KKN di Desa Penari, akan semakin banyak lagi ketidakcocokannya.

Diceritakan bahwa kisah itu terjadi pada tahun 2009 dan baru pada tahun 2018 ruas jalan tol Pandaan - Probolinggo rampung. Artinya, sebelum tahun 2018 sungguh mustahil naik Elf ke dari Surabaya ke Banyuwangi selama 4 jam. Lha wong 5 jam saja baru sampai Jember dan dari sana ke Banyuwangi masih butuh 3 jam lagi bila lancar dan tak ada macet di Hutan Gumitir.

Mungkinkah para mahasiswa itu juga naik Elf setan yang ngebut dan ketika terbangun tau-tau sudah sampai di tujuan?

Kedua soal hutan yang aku maksud tadi. Baiklah, di bagian 1 kisah versi Widya terdapat gambar dengan judul syereeem itu dan aku langsung tau bahwa lokasi dalam gambar itu bisa dipastikan adalah Alas (hutan) Gumitir. Itu semakin diperkuat di kisah versi Nur ketika mobil mereka dihadang oleh orang tua yang melambai-lambaikan tangan.

Mungkin si penulis terinspirasi oleh banyaknya - tak cuma orang tua - tapi juga ibu-ibu, remaja sampai anak kecil yang melambai-lambaikan tangan mereka di sepanjang jalan untuk meminta uang dari mobil dan kendaraan yang melintas. Dan mereka ada di situ sampai malam lho... blas nggak ada serem-seremnya. Lha wong aku biasa naik mobil malam-malam sendirian lewat situ. Banyak warungnya dan banyak pasangan yang nganu cari gratisan :V :V :V

Ketiga soal desa yang tak bisa dilalui oleh kendaraan selain motor untuk menuju kesana. Entahlah, aku lupa siapa bupati Banyuwangi sebelum Pak Abdullah Azwar Anas. Namun siapapun bupatinya, pasti nggak akan terima kalo kabupaten itu dibilang miskin dan tertinggal sehingga masih ada desa yang nggak cuma belum dialiri oleh listrik, lebih dari itu, akses jalannya yang parah dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Asal lo semua tau ya... Banyuwangi itu lumbung padi Jawa Timur dan salah satu kabupaten termakmur di Indonesia. Hambok mustahil ada desa yang aksesnya cuma bisa dilewati oleh motor.

Ya gak tau lagi kalo yang dimaksud oleh penulis dalam cerita itu adalah daerah MRAWAN (masih di Alas Gumitir) yang memang nggak dilewati mobil, tapi itu bukan karena nggak bisa, melainkan nggak boleh oleh PTPN XII selaku pemangku wilayah itu karena khawatir kendaraan roda empat bisa untuk dipakai mengangkut kayu atau hasil hutan curian :v

Kejanggalan yang keempat adalah budaya penduduk desa setempat yang dalam kisah itu digambarkan semua penduduknya tak memiliki kamar mandi di rumah-rumah mereka, sehingga jika ingin mandi harus menuju SINDEN atau tempat penampungan air sebagai tempat mandi umum. Dijelaskan juga bahwa Proker (program kerja) para mahasiswa KKN di desa itu nantinya adalah membuat saluran air dari sungai ke sinden-sinden yang ada di sekitar permukiman penduduk.
The problem is...

Hutan Gumitir itu berada di ketinggian antara 800 sampai dengan 1500 meter DPL. Nah, coba bayangkan orang mandi di tempat terbuka dengan suhu sedingin itu dan jangan salah, masih banyak saluran air dari yang kecil sampai besar sisa penjajahan Belanda yang masih berfungsi sampai sekarang. Kok tau mas? Lho kan aku sejak SMA sering main ke daerah itu sampai ke persil-persil paling terpencil?

Lalu soal SINDEN itu... sebenarnya itu bahasa Jawa dialek mana sih, kok aku agak kurang familiar? Kalo sinden penyanyi tradisional Jawa itu aku tau. tapi sinden sebagai tempat penampungan air?
Jika itupun memang berasal dari dari Bahasa Jawa juga agak aneh, soalnya nganu... penduduk sekitar Hutan Gumitir sejak dari Silo Sanen, Garahan, Pasar Alas, Mrawan sampai dengan Kalibaru hingga Glenmore itu mayoritas adalah etnis madura dan orang Madura tak kenal apa itu SINDEN, tapi kalo EMBUNG, pasti tau.

Atau jangan-jangan, Pak Prabu, si Kepala Desa dalam cerita itu nama panjangnya adalah Pak Bu-Prabbu Tak Iye :v :v :v

Dan bagian ini yang paling menarik.

Baik dalam kisah bagian 1 versi Widya maupun bagian 2 versi Nur, sama-sama menceritakan bahwa saat mereka masuk ke dalam hutan, dari jauh dalam kegelapan, mereka berdua melihat sosok seorang penari perempuan yang cantik seakan-akan seperti hendak menyambut kedatangan mereka.

Ini agak gimana ya. Soalnya bukan cuma Widya dan Nur, termasuk aku dan juga entah berapa juta orang dari dulu sampai sekarang yang hendak memasuki Kabupaten Banyuwangi dari arah Jember, selepas 200 meter dari terowongan kereta api pasti juga akan disambut oleh penari itu. Cantik atau nggak aku kurang tau, tapi yang jelas wujudnya perempuan. Itu memang bisa bikin kaget bagi siapapun yang pertama kali melewati daerah situ, terutama jika malam hari.

Kalo aku sih nggak, soalnya di atas penari perempuan itu ada tulisan, SELAMAT DATANG DI BANYUWANGI.

Barusan sebelum menulis status panjang ini, aku sempatkan untuk mendownload gambar penari itu dan aku langsung ngekek... feelingku langsung bilang bahwa patung penari itulah yang menjadi inspirasi utama dari keseluruhan cerita horor dengan judul menggentarkan itu; KKN di Desa Penari.
Iya apa iya mas, mbak, pak, bu, om, tante atau siapapun anda yang menulis "kisah nyata" itu?

Pengen viral sih boleh saja, itu hak setiap orang. Tapi mbok ya hati-hati. Kuatir konangan sama warga setempat yang apesnya kebanyakan cocot kayak saya ini.

Lagipula ada 2 orang mahasiswa yang meninggal saat melaksanakan KKN itu apa ya nggak sudah masuk berita dimana-mana dan juga dibahas oleh netijen warga Fesbuk.

Eh, tahun 2009 masih belum ada internet ding...

4 Komentar untuk "VIRAL, MENCARI KEBERADAAN DESA PENARI"

  1. Kalo aku pribadi menanggapinya biasa aja. Dari pengarang sendiri sudah menanggapinya bahwa ada beberapa hal yang sengaja disamarkan dan bahkan disalahkan dengan tujuan menyamarkan desa tersebut. Dan pada intinya adalah dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa dimanapun kita berada kita harus menjunjung adab,sopan santun berperilaku terlepas dari cerita ini fiktif atau nyata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua dimanapun kita berada untuk selalu menjaga tingkah laku. Serta mantaati apa yang di perbolehkan dan tidak.

      Hapus
  2. Lanjutan nya mana.. ? .masak cuma itu doank "investigasi"nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk artikel terkait KKN di Desa Penari lainnya bisa di cari pada menu daftar isi

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel